21 Tahun Timor Leste Merdeka, Makam dan Senjata Lobato Masih Jadi Misteri

Pada 30 Agustus lalu, Timor Leste merayakan kemerdekaannya ke-21 setelah lepas dari Pemerintahan Indonesia lewat referendum. Meski sudah 21 merdeka, masih ada satu misteri bagi pemerintahan negara itu yakni keberadaan makam Presiden Nicolao Lobato dan senjata yang menewaskannya.


Hingga kini belum diketahui meski sejarah mencatat kalau Nicolao Lobato tewas tertembak pasukan Yonif 744 pimpinan Mayor Yunus Yosfiah pada tanggal 31 Desember 1978.

sejarah mencatat, Nicolao Lobato tewas ditembak oleh Sersan Satu Jacobus Maradebo, seorang prajurit asli Timor Timur. Peluru itu tepat bersarang di dada Lobato. Ada juga yang mengatakan Lobato tertembak di perut.

Setelah dipastikan jika yang tewas adalah Nicolao Lobato, Panglima ABRI saat itu, Jenderal M Jusuf yang langsung meneruskannya pada Presiden Soeharto dan membawa jenazah Lobato ke Jakarta.

Jenderal Jusuf langsung terbang ke Dili untuk menyaksikan jenazah Lobato. Dia juga terbang ke lokasi pasukan Nanggala dan 744 berada. Secara khusus Jenderal Jusuf memberikan ucapan selamat pada Sertu Jacobus Maradebo atas prestasinya.

Namun tak diketahui hingga kini dimana jenazah Nicolao Lobato setelah dibawa ke Jakarta. Jenderal (Purn) Agum Gumelar sempat memimpin Tim Pencari Fakta untuk mencari jenazah Lobato. Namun belum diketahui hasilnya.

Nama Nicolao Lobato sendiri diangkat menjadi pahlawan nasional. Namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang internasional di Kota Dili. Patungnya menenteng senjata dan mengibarkan bendera Timor Leste berdiri gagah di ibukota negara tersebut.

Ada juga yang menyebut jenazah Lobato dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta di deretan Pahlawan Tak Dikenal. Tapi tidak ada bisa memastikan dimana keberadaan Lobato.

Sejarah kelam bagi Timor Leste itu kembali diangkat saat salah satu pejuang Timor Leste yang memilih menjadi jurnalis, Jose Antonio Belo, bertemu dengan Letjen (Purn) TNI Kiki Syahnakri, mantan Pangdam Udayana dalam dalam sebuah dialog virtual Mengenang Indonesia Mengenang Timor Leste bersama Teguh Santosa (Ketua JMSI) dan wartawan Timor Leste, Jose Antonio Belo, Kamis (3/9).

Pertemuan keduanya cukup hangat meski hanya lewat virtual. Bahkan Kiki Syahnakri yang sempat 11 tahun bertugas di wilayah itu sesekali berbicara dengan bahasa Timor Leste yang dipengaruhi Bahasa Portugis.

Dalam pertemuan itu, Jose Belo meminta Kiki untuk membantunya mencari keberadaan jenazah atau makam Lobato berikut senjata yang telah menewaskannya tersebut.

Bahkan dia juga pernah mencari sendiri ke Jakarta dan ditemani Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa untuk memecahkan misteri itu namun hasilnya tetap nihil.

Menanggapi hal tersebut, Kiki mengaku, kalau sebelumnya juga dia pernah dikunjungi Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao dengan tujuan yang sama namun tetap nihil.

“Jauh sebelumnya, Xanana Gusmao juga datang untuk menanyakan senjata dan makam Lobato kepada saya. Tapi saya juga tidak tahu karena saat itu banyak bertugas di Bali. Sementara orang-orang yang terlibat dalam sejarah itu juga sebagian besar sudah tidak ada lagi,” kata Kiki.

Meski demikian Kiki meminta agar sejarah masa lalu tidak membuat perpecahan dan sebaiknya lebih memandang masa depan.

“Masa lalu kita telah membuat kita menjadi teman, sahabat bahkan keluarga. Sejarah masa lalu itu membuat kita semua pahit. Ada yang kehilangan keluarga, termasuk saudara anda (David Alex). Sementara bagi saya, ini juga pukulan pahit karena ada 3000 prajurit TNI yang gugur. Saya tentu ikut prihatin. Tapi secara pribadi, lebih bagus kita melihat ke depan,” terangnya.

Sementara hubungan Timor Leste dan Indonesia setelah berpisah kini malah lebih baik dan harmonis lagi. Secara ekonomi, barang-barang kebutuhan rakyat Timor Leste banyak dipasok dari Indonesia. Bahkan ada beberapa perwira di negara ini mengikuti Lemhanas di Indonesia.

“Yah betul itu, karena saya juga salah satu dosen di Lemhanas. Semoga hubungan kita semakin akrab seperti saudara,” ujar Kiki Syahnakri.