Dua Modal Airlangga Sebagai Capres, Jejaring Politik Dan Dukungan Partai

Airlangga Hartarto bersama jajaran pengurus Golkar./Doku
Airlangga Hartarto bersama jajaran pengurus Golkar./Doku

Dukungan dari internal Partai Golkar untuk mengusung Airlangga Hartarto pada Pilpres 2024 mendatang, sudah bulat. Meski demikian, Ketua Umum DPP Golkar itu belum secara terbuka menyatakan diri siap maju.


Airlangga  selalu menegaskan dirinya masih fokus pada tugas Menteri, untuk menangani pandemi Covid-19 dan upaya memulihkan perekonomian nasional. 

Terlepas dari belum adanya pernyataan terbuka, Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai, Airlangga telah memiliki dua keunggulan lebih, dibanding kandidat capres lain yang diprediksi akan bertarung di Pemilu 2024.

“Saya kira dia punya koneksi yang bagus dan punya sokongan partai. Dua hal itu di sejumlah calon belum dimiliki," tutur Arya dalam keterangannya, Sabtu (3/4)..

Rekam jejak Menteri Koordinator bidang Perekonomian itu pernah menduduki berbagai jabatan. Ia pernah berkiprah baik di jajaran elite parlemen DPR, maupun sektor ekonomi dengan menjabat sebagai Ketua Asosiasi Emiten Indonesia dan sekarang sebagai Menko Perekonomian.

Dengan kiprahnya di sektor berpengaruh itu, Airlangga dinilai lebih luwes untuk menggaet jaringan politik dan ekonomi sekaligus.

Adapun keunggulan kedua adalah, Airlangga sudah punya dukungan partai untuk lebih memuluskan jalan menjadi Capres. DPP Golkar dan pengurus daerah dengan suara bulat  mengusung sang ketua umumnya untuk menjadi Capres 2024. Golkar, tambah Arya, hanya perlu menggandeng satu partai menengah, untuk bisa mengusung Capres 2024.

Pada sisi lain, Arya melihat, Golkar masih memiliki pekerjaan rumah untuk mendongkrak popularitas capresnya. Nama Airlangga belum begitu populer dalam sejumlah lembaga survei. Hal ini karena Airlangga memang belum menyatakan  maju sebagai capres.

“Beliau punya tantangan dalam hal meningkatkan popularitas. Tapi calon-calon lain juga punya tantangan. Misal yang populer tapi tidak punya koneksi, terbatas di level high politic. Tidak bisa mengakses tokoh-tokoh penting di partai atau tidak punya sokongan partai," ujar Arya.

Airlangga sudah terlihat berupaya membangun komunikasi dengan beberapa partai untuk menjajaki peluang koalisi. Dalam beberapa waktu terakhir, Airlangga sudah bertemu dengan Prabowo Subianto dan Surya Paloh. Terakhir, bertemu Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa.

Empat Poros

Lebih jauh peneliti CSIS itu memprediksi, akan muncul empat poros dalam Pilpres 2024. Selain poros Golkar yang sepakat mengusung Airlangga, juga ada poros PDI Perjuangan, Gerindra, dan Nasdem.

PDI Perjuangan bisa mengusung capres sendiri punya perolehan suara hampir mencapai 20% (19,33%). Sementara, Gerindra sepertinya masih ingin mengusung Ketua umumnya Prabowo Subianto. Sama seperti Golkar, Gerindra butuh satu partai menengah untuk mengusung Capres.

“Masih sangat panjang, fluktuatif, bisa saja porosnya berubah. Saya sepakat calon lebih dari dua, sehingga kandidat termotivasi untuk berkompetisi. Sehingga akan ada adu program yang bagus yang baik bagi kepentingan publik," ujar Arya.

Arya melihat, tidak tertutup kemungkinan, keempat poros saling berkoalisi. Akakn tetapi Arya melihat, peluang Airlangga menjadi Capres bakal tipis jika Golkar berkoalisi dengan Gerindra.  Sebab, Gerindra juga masih ngotot untuk mengusung Prabowo.

Hal yang menarik soal peluang koalisi Gerindra dengan PDI Perjuangan. Arya melihat peluang itu masih terbuka.  Namun, jika koalisi gagal, PDI Perjuangan masih bisa mengusung Capres sendiri.