KLHK Kembali Rehabilitasi Mangrove di Desa Tanjung Harapan

Foto/RMOLKalbar
Foto/RMOLKalbar

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia kembali melakukan rehabilitasi Mangrove di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat telah ditanami mangrove, Rabu (6/10).


Dari informasi yang dihimpun oleh media ini dilapangan, bahwa program padat karya percepatan rehabilitasi mangrove di desa Tanjung Harapan luasnya 47 Hektare dengan nilai biaya penanaman sebesar Rp 361 juta dan pelaksanaan penanaman oleh anggota kelompok tani masyarakat (Pokmas).

Kegiatan padat karya rehabilitasi ini pun saat ini sudah 100 persen selesai dilaksanakan. Dan dari program padat karya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dimasa pandemi ini ada sekitar 50 warga desa Tanjung Harapan yang mendapatkan lapangan pekerjaan dan membuka rekening di bank untuk menerima upah kerja.

Pelaksanaan program padat karya juga dilaksanakan secara transparan diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat dan pemerintah desa, pengurus RT dan RW sebelum program dilaksanakan. Kemudian secara teknis proses pencairan dana juga langsung ke kelompok tani yang ikut bekerja dengan diawali verifikasi faktual dilapangan untuk mengetahui progres pelaksanaan pengerjaan oleh Tim dari BPDAS Provinsi Kalbar yang didampingi anggota Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.

Kepala Desa Tanjung Harapan Sahron mengatakan, pada tahun 2021 ini di desanya telah mendapatkan bantuan program padat karya rehabilitasi mangrove dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seluas 47 Hektare, dan dari 47 Hektare lahan tersebut semuanya telah dilakukan penanaman oleh kelompok tani masyarakat.

"Alhamdulilah 47 Hektare lahan sudah semua ditanami propagule mangrove. Dan saya sebagai kepala desa sangat mengucapkan terima kasih kepada KLHK dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kapuas ( BPDAS ) Provinsi Kalimantan Barat. Karena program padat karya ini banyak manfaat, selain meningkatkan ekonomi masyarakat dimasa pandemi Covid-19, program rehabilitasi mangrove juga untuk menahan alur sungai dari abrasi," ujarnya.

Lebih lanjut, Sahron menambahkan, program padat karya rehabilitasi mangrove di desanya mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat dan mengenai adanya berita disalah satu media online yang mengatakan bahwa mangrove yang ditanam mati itu tidak benar. Karena menurutnya ada sekitar 50 persen mangrove yang ditanam pada tahun 2020 itu hidup.

"Berita yang beredar itu tidak benar, karena dari yang saya lihat, ada 50 persen mangrove itu hidup. Dan 50 persennya mati karena faktor alam dihantam ombak karena cuaca exstrem di musim barat," tutupnya.