Teguh: Penanganan Covid-19 Butuh Model Komunikasi Efektif Dan Policy Yang Solid

Di negara demokratis, model komunikasi yang efektif menjadi kunci dalam penanganan pandemik Covid-19. Bagaimanapun juga komunikasi yang efektif adalah syarat bagi lahirnya kebijakan yang solid, yang dapat diandalkan untuk menghadapi pandemi mematikan ini.


"Dalam situasi ini yang kita butuhkan adalah policy yang solid. (Yang ditopang) model komunikasi yang efektif. Ini adalah kata kunci," kata Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, saat menjadi narasumber dalam peluncuran buku karya Saleh Daulay, di Ruang Fraksi PAN, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat sore (10/7).

Menurut CEO RMOL Network, ada pandangan yang menganggap pandemik Covid-19 sulit ditangani negara demokratis seperti Indonesia karena proses pembuatan kebijakan dimulai dengan perdebatan serius di ruang publik.

"Saya khawatir perdebatan tidak akan berujung ke mana-mana, sementara korban akan berjatuhan," sambung Teguh.

Dia menambahkan, dirinya tidak ingin negara demokrasi terjerumus dalam kegagalan karena lalai dan keliru menangani wabah Covid-19.

"Saya tidak mau Covid-19 ini memperlihatkan kegagalan demokrasi. Ini tidak baik buat kita semua. Jangan akhirnya kita jadi jera dengan demokrasi karena korban berjatuhan begitu banyak," ujarnya.

Atas dasar itu, Teguh berharap model komunikasi dan diskursus yang efektif bisa diterapkan semua stakeholder. Mulai dari eksekutif, legislatif, hingga para pemangku kebijakan. Dia juga berharap upaya yang dilakukan semua kalangan dalam menghadapi pagebluk ini tidak dicemari oleh niat-niat lain yang kontraproduktif.

"Kita harus sungguh-sungguh dalam menghadapi musuh yang tak terlihat ini," demikian Teguh Santosa.

Pembicara lain dalam bedah buku itu adalah Jurubicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, dan pakar komunikasi politik Gun Gun Heriyanto.