Warga Pertanyakan Bangunan Program PAMSIMAS Yang Tidak Berfungsi di Tapang Perodah

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia, program ini dilaksanakan di wilayah perdesaan dan pinggiran kota.


Air merupakan sumber kehidupan dan kebutuhan mendasar yang tidak bisa ditawar-tawar, karena itu, setiap manusia harus mengkonsumsi air yang layak dan benar-benar bersih.

Maka, Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS),sebagai jawaban untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sayangnya, kegiataan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Tapang Perodah yang di bangun tahun 2019 dengan dana sebesar Rp.210 juta sama sekali tidak berfungsi dengan baik,sehinga air bersih yang di ambil dari air terjun Pelabuh Bindang, proyeknya gagal total,alias tidak bermanfaat, sehinga warga disana tetap mengkomsumsi air sungai dan sumur.

Dikonfirmasi kepada Kepala Desa Tp. Perodah Cantong mengakui bahwa proyek PAMSIMAS di Desa Tp.Perodah tidak berhasil, sebab air dari sumber induk melalui pipa induk yang seharusnya masuk ke Resepoar tidak tercapai, sehinga aliran air tidak terkendali dengan baik.

"Pekerjaan itu sudah menyimpang dari spek yang seharusnya, sehinga Resepoar yang berukuran 2,5 cm dengan tingi 2.0 cm yang dibangun tapi tak berfungsi," ujar Cantong selaku Kepala desa TP. Perodah kepada Kantor Berita RMOLKalbar, Selasa (17/3).

Kedepan lanjut Cantong, sebagai Kepala Desa dirinya tidak ingin ada pembangunan yang sia-sia seperti ini.

"Sia-sia buang-buang uang negara namun hasilnya tidak berfungsi dengan baik," ungkapnya.

Sementara itu Ketua BPD Desa Tapang Perodah, Pinus Jenal mengatakan, pembangunan PAMSIMAS di Desa Tapang Perodah memang tidak sesuai harapan, karena air yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan 40 kepala keluarga (KK) di dusun TP. Perodah tidak terealisasi.

"Karena pembanguan tidak sesuai dengan spek, atau juknis, sebagai contoh resepoar tidak berfungsi sama sekali," ujarnya.

Karena seharusnya, kalau memang pembangunan itu sesuai juknis atau spek awal, maka seharus air dari sumber induk harus di tampung di resepoar dulu, kemudian dari resepoar itu air baru di distribusikan ke rumah tangga masing-masing.

"Begini seharusnya juknis pembangunan PAMSIMAS, baru bisa berfungsi dengan baik," kata Jenal.

Mirisnya lagi sambung Jenal, seharusnya pembangunan PAMSIMAS melalui swakelola, namun dalam prakteknya pekerjaan tersebut dikerjakan oleh peorangan atau dengan kata lain penyedia jasa.

"Dari sini sudah nampak jelas bahwa dari awal pengerjaan PAMSIMAS di Desa TP. Perodah sudah menyimpang," tutup Jenal.